• Home
  • Playgroup
  • Nyore at Mungils : Creating the Best Environment for Your Children
Nyore at Mungils : Creating the Best Environment for

Nyore at Mungils : Creating the Best Environment for Your Children

KATA PENGANTAR

Setiap anak memiliki perjalanan tumbuh kembang yang unik. Sejak awal kehidupan, anak mulai menerima berbagai pengalaman melalui suara, sentuhan, gerakan, interaksi, dan lingkungan di sekitarnya. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses perkembangan anak, termasuk perkembangan otak dan kemampuan dasar yang akan digunakan dalam proses belajar.

Melalui booklet ini, Mungils Preschool mengajak Parents untuk memahami bagaimana otak anak berkembang, mengapa pengalaman pada masa awal kehidupan penting, serta bagaimana lingkungan, pola asuh, dan pendidikan berperan dalam mendukung perkembangan anak.

Kami percaya bahwa menciptakan lingkungan terbaik bagi anak bukan hanya tentang menyediakan fasilitas yang baik, tetapi juga tentang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami, mengeksplorasi, berinteraksi, dan belajar melalui bermain.

Semoga booklet ini menjadi teman bagi Parents dalam memahami kebutuhan anak dan mendampingi setiap tahap perkembangannya.

Mungils Preschool


 

BAB 1 MENGENAL GOLDEN AGE: FONDASI PERKEMBANGAN ANAK

  • A. Apa Itu Golden Age?

Golden Age merupakan periode awal kehidupan anak, yaitu sejak lahir hingga usia 6 tahun (0–6 tahun), ketika perkembangan otak dan berbagai kemampuan dasar berlangsung sangat pesat. Pada masa ini, pengalaman dan stimulasi yang diterima anak dapat menjadi fondasi bagi perkembangan selanjutnya.

Anak tidak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga mulai mengembangkan kemampuan untuk bergerak, merasakan, menerima informasi, berkomunikasi, dan memahami lingkungan di sekitarnya. Berbagai pengalaman yang dialami anak menjadi bagian dari proses perkembangannya. Oleh karena itu, masa awal kehidupan menjadi kesempatan penting bagi orang tua dan pendidik untuk menghadirkan lingkungan yang mendukung anak. Lingkungan tersebut perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami hal-hal baru, berinteraksi, dan mengeksplorasi dunia di sekitarnya.

  • B. Perkembangan Anak Dimulai Sejak Awal Kehidupan

Perkembangan anak dimulai bahkan sebelum kelahiran. Dua minggu menjelang lahir, tubuh dan otak bayi masih mengalami proses pematangan untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan di luar rahim dan beradaptasi dengan lingkungan setelah lahir.

Dua minggu menjelang kelahiran merupakan bagian dari trimester ketiga, fase krusial dalam mempersiapkan kondisi optimal bayi, terutama bagi perkembangan dan pematangan otak saat lahir. Pada periode ini, pemenuhan kebutuhan nutrisi melalui makanan sehat yang kaya gizi menjadi fondasi penting dalam menunjang kematangan struktur otak janin (Georgieff et al., 2020; Mousa et al., 2026; Piccoli et al., 2016).

Selain faktor asupan fisik, latar belakang sosial, budaya, dan kondisi psikososial orang tua turut berperan secara tidak langsung. Latar budaya dan status sosial mempengaruhi pola konsumsi, akses pangan, kebiasaan hidup, hingga tingkat stres ibu; faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi lingkungan intrauterin melalui jalur biologis (Leisman, 2025; Monk et al., 2021; Van den Bergh et al., 2020). Stres maternal yang tinggi selama kehamilan dikaitkan dengan perbedaan struktur dan fungsi otak janin serta bayi baru lahir, khususnya pada wilayah yang berperan dalam regulasi emosi seperti hipokampus dan amigdala (Buss et al., 2021; Leisman, 2025; Madliger et al., 2024). Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan medis, nutrisi, dan dukungan psikososial selama trimester akhir kehamilan merupakan komponen penting untuk mendukung potensi perkembangan otak serta kesehatan anak sejak hari pertama kelahiran (Leisman, 2025; Madliger et al., 2024; Monk et al., 2021). Setelah lahir, proses perkembangan terus berlangsung. Bayi mulai menerima berbagai pengalaman melalui suara, sentuhan, gerakan, dan interaksi dengan lingkungan di sekitarnya. Pengalaman tersebut diterima oleh tubuh dan sistem saraf sebagai bagian dari proses perkembangan. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan anak berlangsung secara bertahap, sejak sebelum lahir hingga anak terus bertumbuh dan berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.

  • C. Bayi dan Kesiapan Menghadapi Dunia Setelah Lahir

Ketika bayi lahir, ia mulai menghadapi lingkungan yang berbeda dari lingkungan sebelumnya. Bayi mulai menerima berbagai pengalaman melalui suara, sentuhan, gerakan, dan interaksi dengan orang-orang di sekitarnya (Riser et al., 2024). Pengalaman-pengalaman tersebut diterima oleh tubuh dan diteruskan melalui sistem saraf sehingga otak dapat mengolah informasi yang diperoleh (Nava et al., 2023). Bayi bukan sekadar individu yang sedang bertumbuh secara fisik; tubuh dan otaknya juga terus berkembang untuk mendukung kemampuan bergerak, berkomunikasi, memahami lingkungan, serta membentuk hubungan sosial dan emosional. Interaksi positif seperti diajak bicara, dipeluk, disentuh, dan diajak bermain dapat mendukung perkembangan fisik, kognitif, bahasa, sosial, dan emosional bayi (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2026; Riser et al., 2024).

  • D. Mengenal Sistem Saraf sebagai Penghubung Tubuh dan Otak

Sistem saraf merupakan bagian penting dalam komunikasi antara tubuh dan otak. Melalui sistem ini, informasi dari tubuh maupun lingkungan dapat diterima dan diteruskan untuk diproses sehingga tubuh dapat memberikan respons. Sebagai contoh, ketika anak mendengar suara, merasakan sentuhan, atau melihat sesuatu di sekitarnya, informasi tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang diterima oleh sistem saraf. Setelah lahir, anak terus berinteraksi dengan dunia di sekitarnya. Setiap pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi anak untuk menerima informasi dan merespons lingkungannya.

  • E. Bagaimana Otak Anak Berkembang?

Saat lahir, bayi telah memiliki sebagian besar sel saraf yang akan digunakan sepanjang hidupnya. Namun, perkembangan otak masih terus berlangsung, terutama melalui pembentukan dan penguatan koneksi antarsel saraf. Berat otak bayi saat lahir sekitar 25% dari berat otak orang dewasa. Seiring pertumbuhan, berat otak meningkat hingga mencapai sekitar 80% dari berat otak orang dewasa.

Perkembangan otak bukan hanya tentang bertambahnya ukuran dan berat, tetapi juga tentang terbentuknya koneksi antar sel saraf. Koneksi inilah yang memungkinkan berbagai sel saraf saling berkomunikasi dan mendukung beragam kemampuan anak. Melalui pengalaman yang diterima secara berulang, anak memperoleh kesempatan untuk membangun dan memperkuat koneksi otak yang mendukung proses perkembangan dan belajarnya.

  • F. Mengapa Pengalaman Awal Kehidupan Penting?

Setiap pengalaman membantu membentuk otak yang sedang berkembang. Pengalaman yang diterima anak melalui interaksi, gerakan, suara, sentuhan, dan eksplorasi menjadi bagian dari proses pembelajaran dan perkembangan. Dalam buku Karena itu, pengalaman pada masa awal kehidupan perlu mendapat perhatian. Anak membutuhkan kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan menerima pengalaman yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Pada periode usia dini, khususnya usia 0–3 tahun, pengalaman sehari-hari menjadi bagian penting dari perjalanan perkembangan otak anak.

Refleksi untuk Parents

Sudahkah anak mendapatkan kesempatan untuk bergerak, mengeksplorasi, merasakan berbagai pengalaman, dan berinteraksi dengan lingkungan dalam kesehariannya?

 

BAB 2 MENGENAL OTAK ANAK: DARI NEURON HINGGA KONEKSI SARAF

  • A. Mengenal Neuron: Sel Saraf yang Mengolah Informasi

Neuron adalah sel saraf yang bertugas menerima, memproses, dan mengirimkan informasi di dalam otak dan tubuh. Neuron berperan dalam proses komunikasi yang memungkinkan berbagai informasi diterima dan diteruskan. Melalui kerja sel-sel saraf tersebut, otak dan tubuh dapat saling berkomunikasi untuk mendukung berbagai fungsi, mulai dari bergerak dan merasakan hingga mengingat dan belajar. Dengan memahami peran neuron, kita dapat melihat bahwa perkembangan otak tidak hanya berkaitan dengan satu sel saraf yang bekerja sendiri. Berbagai sel saraf saling terhubung dan bekerja bersama membentuk jaringan komunikasi.

  • B. Bagian-Bagian Neuron dan Fungsinya

Neuron dijelaskan melalui beberapa bagian utama berikut.

  1. Badan sel. Badan sel mengandung nukleus dan berperan dalam menjaga kesehatan sel saraf.
  2. Dendrit. Dendrit memiliki struktur menyerupai ranting dan berperan menerima pesan dari neuron lain.
  3. Akson. Akson merupakan bagian yang berfungsi mengirimkan pesan atau informasi menuju neuron lain. Ketiga bagian tersebut mendukung fungsi neuron dalam menerima dan meneruskan informasi. Melalui komunikasi antar sel saraf, informasi dapat diproses dan digunakan untuk mendukung respons tubuh terhadap lingkungan.
  • C. Bagaimana Neuron Saling Terhubung?

Neuron tidak bekerja sendiri. Sel-sel saraf saling terhubung dan berkomunikasi melalui koneksi anta rsel saraf. Koneksi tersebut memungkinkan berbagai informasi diteruskan dan diproses sehingga fungsi otak dapat berjalan. Dari banyaknya koneksi antarsel saraf, berbagai kemampuan dapat berkembang, mulai dari bergerak, merasakan, mengingat, hingga belajar. Dengan demikian, perkembangan otak anak berkaitan erat dengan pembentukan dan penguatan koneksi antarsel saraf. Pengalaman yang diterima anak menjadi bagian dari proses perkembangan jaringan koneksi tersebut.

  • D. Koneksi Otak dan Kemampuan Anak untuk Belajar

Berbagai kemampuan anak melibatkan kerja otak dan koneksi antarsel saraf. Ketika anak bergerak, menerima rangsangan, mengingat pengalaman, atau mempelajari sesuatu, berbagai bagian dari sistem saraf berperan dalam proses tersebut. Anak memperoleh pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan. Pengalaman ini menjadi bagian dari proses ketika anak membangun pemahaman dan mengembangkan kemampuan baru. Oleh karena itu, memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami dan mengeksplorasi lingkungan merupakan salah satu cara menghadirkan pengalaman belajar dalam kehidupan sehari-hari.

E. Mengenal Tiga Bagian Otak

BAB 3. BUILD OR PRUNE: MENGAPA STIMULASI YANG KONSISTEN PENTING?

  • A. Otak Anak Membentuk Banyak Koneksi

Pada masa awal kehidupan, otak membentuk banyak koneksi antar sel saraf. Koneksi tersebut menjadi bagian dari jaringan komunikasi yang mendukung berbagai kemampuan anak. Namun, tidak semua koneksi akan bertahan dengan cara yang sama. Sebagian koneksi dapat menjadi lebih kuat, sementara sebagian lainnya dapat dikurangi.

  • B. Build: Memperkuat Koneksi yang Sering Digunakan

Build menggambarkan proses penguatan koneksi otak yang sering digunakan. Dalam materi presentasi, ditekankan bahwa koneksi otak yang sering digunakan akan menjadi semakin kuat. Pengalaman yang berulang menjadi bagian dari proses ini. Ketika anak memperoleh kesempatan untuk menggunakan dan mengembangkan kemampuan tertentu secara konsisten, pengalaman tersebut membantu mendukung proses perkembangannya. Konsistensi menjadi hal penting karena perkembangan anak berlangsung melalui berbagai pengalaman yang dialami dari waktu ke waktu.

  • C. Prune: Mengurangi Koneksi yang Jarang Digunakan

Prune merujuk pada proses ketika koneksi yang jarang digunakan dapat dikurangi atau dipangkas. Konsep ini membantu menjelaskan bahwa perkembangan otak bukan sekadar pembentukan koneksi sebanyak-banyaknya. Koneksi juga mengalami proses perubahan seiring perkembangan anak. Dalam konteks materi parenting ini, build dan prune memperlihatkan pentingnya pengalaman yang diterima anak selama masa perkembangan awal.

  • D. Konsistensi Pengalaman dalam Kehidupan Sehari-hari

Anak membutuhkan kesempatan untuk mengalami dan menggunakan berbagai kemampuan dalam kesehariannya. Pengalaman belajar tidak hanya berlangsung dalam kegiatan khusus, tetapi juga dapat hadir melalui interaksi dan aktivitas sehari-hari. Karena itu, orang tua dan pendidik memiliki peran dalam menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak memperoleh pengalaman secara konsisten. Tujuannya bukan memberikan sebanyak mungkin aktivitas kepada anak, melainkan menghadirkan pengalaman yang bermakna dan memberikan kesempatan kepada anak untuk terlibat di dalamnya.

BAB 4 DEVELOPMENT VS. LEARNING: MEMAHAMI CARA ANAK BERTUMBUH DAN BELAJAR

  • A. Apa Itu Development atau Perkembangan?

Development atau perkembangan merupakan proses ketika kemampuan anak bertumbuh dan berubah dari waktu ke waktu, dari kemampuan yang sederhana menuju kemampuan yang lebih kompleks. Perkembangan anak mencakup berbagai aspek yang saling berkaitan. Dalam PPT, aspek tersebut meliputi perkembangan fisik, kognitif, bahasa, pertumbuhan emosional, serta kematangan yang berkaitan dengan pengendalian diri dan tanggung jawab. Perkembangan bukan hanya tentang apa yang dapat dilakukan anak pada satu waktu, tetapi juga tentang bagaimana kemampuannya berubah dan berkembang sepanjang proses pertumbuhan.

  • B. Lima Aspek Perkembangan Anak

1. Perkembangan Fisik

Perkembangan fisik berkaitan dengan kemampuan anak untuk bergerak dan mengoordinasikan tubuhnya. Melalui perkembangan ini, anak semakin mengembangkan kemampuan menggunakan tubuh untuk melakukan berbagai aktivitas.

2. Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif berkaitan dengan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah. Anak memperoleh pengalaman dari lingkungan dan menggunakan pengalaman tersebut sebagai bagian dari proses memahami sesuatu.

3. Perkembangan Bahasa

Perkembangan bahasa berkaitan dengan kemampuan memahami dan berkomunikasi. Bahasa membantu anak menerima informasi, menyampaikan pesan, serta berinteraksi dengan orang lain.

4. Pertumbuhan Emosional

Pertumbuhan emosional berkaitan dengan kemampuan mengenali dan mengelola emosi. Kemampuan ini menjadi bagian dari proses perkembangan anak ketika berinteraksi dengan orang lain dan menghadapi berbagai pengalaman.

5. Kematangan

Kematangan berkaitan dengan pengendalian diri dan tanggung jawab. Aspek ini merupakan bagian dari proses perkembangan anak menuju kemampuan yang semakin kompleks dalam mengelola perilaku dan menjalankan tanggung jawabnya. Kelima aspek tersebut merupakan bagian dari perkembangan anak yang perlu dipahami secara menyeluruh.

  • C. Apa Itu Learning atau Pembelajaran?

Learning atau pembelajaran merupakan proses memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui belajar yang sistematis, instruksi, praktik, dan pengalaman. Dalam kehidupan anak, pembelajaran dapat berlangsung ketika anak memperoleh informasi, mencoba melakukan sesuatu, dan mengalami suatu kegiatan. Pembelajaran dan perkembangan saling berkaitan, tetapi keduanya memiliki penekanan yang berbeda. Perkembangan menggambarkan proses pertumbuhan dan perubahan kemampuan anak, sedangkan pembelajaran menekankan proses memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Memahami perbedaan ini membantu orang tua melihat proses belajar anak sebagai bagian dari perjalanan perkembangannya.

  • D. Memahami Nature: Pengaruh Keturunan dan Faktor Biologis

Nature merujuk pada pengaruh keturunan dan perkembangan biologis yang berlangsung secara alami. Konsep nature membantu kita memahami bahwa perkembangan anak tidak hanya berkaitan dengan lingkungan yang diberikan oleh orang tua dan sekolah. Ada pula faktor yang berkaitan dengan kondisi biologis dan keturunan.

  • E. Memahami Nurture: Pengaruh Lingkungan, Pola Asuh, dan Pendidikan

Nurture merujuk pada pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Faktor yang meliputi pola asuh, pendidikan, serta pengalaman yang diperoleh melalui orang-orang yang mendampingi anak, seperti orang tua, pengasuh, dan guru. Lingkungan memberikan kesempatan kepada anak untuk menerima pengalaman, berinteraksi, dan belajar. Oleh karena itu, orang dewasa memiliki peran dalam menghadirkan pengalaman yang mendukung perkembangan anak.

  • F. Perkembangan Anak Dipengaruhi oleh Berbagai Faktor

Perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks dan saling berkaitan. Selain nature dan nurture, posisi sosial, ras dan etnis, agama dan budaya, serta kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan anak perlu dipahami secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang berkaitan dengan kehidupan dan lingkungannya. Tidak ada satu faktor tunggal yang menjelaskan seluruh perjalanan perkembangan anak. Pemahaman terhadap berbagai faktor tersebut membantu orang tua dan pendidik melihat kebutuhan anak secara lebih luas.

Refleksi untuk Parents

Bagaimana lingkungan rumah, pola pengasuhan, dan pengalaman sehari-hari memberikan kesempatan kepada anak untuk bertumbuh, belajar, dan mengembangkan kemampuannya?

 

BAB 5 LEARNING THROUGH PLAY: BELAJAR MELALUI BERMAIN DAN EKSPLORASI

  • A. Belajar dari Berbagai Perspektif Pendidikan Anak Usia Dini

Memahami pendidikan anak usia dini berarti melihat bagaimana pengalaman belajar dapat dihadirkan dalam kehidupan anak. Proses belajar tidak hanya berkaitan dengan penyampaian informasi, tetapi juga dengan kesempatan anak untuk mengalami dan terlibat secara langsung. Berbagai perspektif pendidikan dapat menjadi sumber inspirasi untuk memahami bagaimana lingkungan dan kegiatan belajar dirancang bagi anak.

  • B. Melihat Proses Belajar Anak Secara Langsung

Belajar secara langsung memberikan kesempatan kepada anak untuk terlibat dalam proses memperoleh pengalaman. Pembelajaran langsung ditunjukkan melalui eksplorasi dan pengalaman. Anak tidak hanya menerima informasi, tetapi juga berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Dengan mengamati proses belajar anak, orang dewasa dapat melihat bagaimana anak terlibat dalam suatu kegiatan dan memperoleh pengalaman dari kegiatan tersebut.

  • C. Mengapa Anak Belajar melalui Bermain?

Pada usia dini, anak belajar melalui pengalaman, eksplorasi, bermain, dan interaksi dengan lingkungan. Bermain menjadi salah satu cara anak berhubungan dengan dunia di sekitarnya. Melalui kegiatan bermain, anak memperoleh kesempatan untuk mencoba, mengalami, dan terlibat dalam aktivitas yang disediakan. Karena itu, bermain dan belajar bukan dua kegiatan yang harus dipisahkan. Bermain dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran ketika anak memperoleh pengalaman dan kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungannya.

  • D. Eksplorasi dan Interaksi dengan Lingkungan

Lingkungan menyediakan berbagai kesempatan bagi anak untuk memperoleh pengalaman. Suara, benda, ruang, gerakan, dan interaksi menjadi bagian dari dunia yang dapat dieksplorasi anak. Ketika anak diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan, anak dapat terlibat langsung dalam pengalaman belajar. Maka dari itu, ditekankan pentingnya pengalaman, eksplorasi, dan interaksi dalam pembelajaran anak usia dini. Oleh karena itu, lingkungan belajar perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk terlibat secara aktif.

  • E. Setiap Fasilitas sebagai Kesempatan Belajar di Mungils Preschool

Di Mungils Preschool, fasilitas dipandang sebagai kesempatan bagi anak untuk belajar melalui bermain dan eksplorasi. Lingkungan sekolah bukan hanya tempat anak melakukan aktivitas, tetapi juga ruang bagi anak untuk memperoleh berbagai pengalaman. Setiap kegiatan dan fasilitas dapat menjadi bagian dari perjalanan belajar anak ketika memberikan kesempatan untuk berinteraksi, mencoba, dan mengeksplorasi lingkungan. Melalui pendekatan ini, Mungils Preschool menghadirkan pengalaman belajar yang berpusat pada keterlibatan anak dalam kegiatan bermain dan eksplorasi. Pesan untuk Parents Ketika anak bermain, ia sedang memperoleh pengalaman dari lingkungan di sekitarnya. Berikan kesempatan kepada anak untuk terlibat, mencoba, dan mengeksplorasi, bukan hanya berfokus pada hasil akhir suatu kegiatan.

BAB 6 STIMULASI SENSORIK: MENDUKUNG PERKEMBANGAN ANAK SECARA MENYELURUH

  • A. Mengapa Anak Membutuhkan Stimulasi Sensorik?

Anak membutuhkan stimulasi sensorik yang konsisten dan kesempatan bermakna untuk mengeksplorasi lingkungannya. Melalui pengalaman sensorik, anak berinteraksi dengan berbagai rangsangan yang ada di sekitarnya. Pengalaman ini menjadi bagian dari proses anak mengenal lingkungan dan memperoleh kesempatan untuk berkembang.

  • B. Mengenal Delapan Sistem Sensorik

Mungils Preschool menekankan pentingnya kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi lingkungan melalui delapan sistem sensorik. Delapan sistem sensorik tersebut menjadi bagian dari pendekatan stimulasi yang digunakan untuk mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.

  • C. Stimulasi Sensorik melalui Eksplorasi Lingkungan

Lingkungan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami berbagai rangsangan melalui aktivitas eksplorasi. Dalam pendekatan pembelajaran melalui bermain, anak memperoleh pengalaman dengan berinteraksi langsung dengan lingkungan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar dan perkembangan. Karena itu, kesempatan eksplorasi yang bermakna menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menyediakan lingkungan yang mendukung anak.

  • D. Pentingnya Kesempatan Eksplorasi yang Konsisten dan Bermakna

Anak membutuhkan stimulasi sensorik secara konsisten dan kesempatan yang bermakna untuk mengeksplorasi lingkungan. Konsistensi memberikan kesempatan bagi anak untuk memperoleh pengalaman dari waktu ke waktu. Sementara itu, eksplorasi memungkinkan anak terlibat secara langsung dengan lingkungan di sekitarnya. Melalui lingkungan yang menyediakan kesempatan tersebut, anak dapat terus mengalami dan belajar dari berbagai pengalaman dalam perjalanan perkembangannya.

  • E. Perilaku Anak sebagai Petunjuk Kebutuhan Sensorik

 

PENUTUP : MEMBANGUN LINGKUNGAN TERBAIK BAGI ANAK

Memahami perkembangan anak merupakan langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kebutuhan belajarnya. Masa awal kehidupan merupakan periode penting ketika otak berkembang dan koneksi antar sel saraf terus mengalami perubahan. Pengalaman yang diterima anak melalui tubuh, interaksi, dan lingkungan menjadi bagian dari proses perkembangan tersebut. Perkembangan anak juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor biologis, lingkungan, pola asuh, pendidikan, kesehatan, dan pengalaman sehari-hari. Dalam pendidikan anak usia dini, bermain dan eksplorasi memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami lingkungan secara langsung. Oleh karena itu, lingkungan belajar perlu menyediakan pengalaman yang bermakna dan stimulasi yang konsisten. Orang tua dan sekolah memiliki kesempatan untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perjalanan tumbuh kembang anak.

Refleksi Parents: Mulai dari Rumah

Luangkan waktu sejenak untuk memikirkan pertanyaan berikut.

  1. Pengalaman apa yang paling sering diterima anak dalam kesehariannya?
  2. Apakah anak memiliki kesempatan untuk bermain, bergerak, dan mengeksplorasi lingkungan?
  3. Bagaimana keluarga memberikan kesempatan kepada anak untuk memperoleh pengalaman baru?
  4. Bagaimana orang tua dan sekolah dapat bekerja sama untuk mendukung perkembangan anak?

Tidak harus selalu melalui kegiatan yang rumit. Memahami anak, memberikan kesempatan untuk mengalami lingkungan, dan menghadirkan pengalaman yang bermakna merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan terbaik bagi anak.

Mungils Preschool

Learning while playing, playing while learning.

Every facility is an opportunity for learning through play and exploration.

 


DAFTAR PUSTAKA

  • Buss, C., Entringer, S., Moog, N. K., Toepfer, P., Fair, D. A., Simhan, H. N., Styner, M. A., Wadhwa, P. D., & Gyllenhammer, L. E. (2021). Maternal psychosocial stress during pregnancy is associated with newborn hippocampal volume and infant social-emotional development. Frontiers in Human Neuroscience, 15, Article 649446. https://doi.org/10.3389/fnhum.2021.649446
  • Centers for Disease Control and Prevention. (2026, February 20). Positive parenting tips: Infants (0–1 years). U.S. Department of Health & Human Services. https://www.cdc.gov/child-development/positive-parenting-tips/infants.html
  • Georgieff, M. K., Ramel, S. E., & Cusick, S. E. (2020). Maternal influences on fetal brain development: The role of nutrition, infection and stress, and the potential for intergenerational consequences. Early Human Development, 150, Article 105190. https://doi.org/10.1016/j.earlhumdev.2020.105190
  • Kearns, K. (2021). Frameworks for learning & development (5th ed.). Cengage Learning.
  • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2014). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini.
  • Leisman, G. (2025). Emotional brain development: Neurobiological indicators from fetus toddlerhood. Brain https://doi.org/10.3390/brainsci15080846 Sciences, 15(8), Article 846.
  • Madliger, C., Baker, M. R., Bardsley, S. C., & Ferguson, S. M. (2024). Increased exposure to prenatal stressors is associated with alterations in fetal and neonatal brain structure, microstructure, and function. NeuroImage, 285, Article 11624138. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11624138/
  • Monk, C., Lugo-Candelas, C., & Trumpff, C. (2021). Effects of maternal psychological stress during pregnancy on offspring brain development: Considering the role of inflammation and potential for preventive intervention. Biological Psychiatry: Cognitive Neuroscience and Neuroimaging, 6(12), 1145–1154. https://doi.org/10.1016/j.bpsc.2021.05.007
  • Mousa, A., Naqash, A., & Lim, S. (2026). Maternal nutrition during pregnancy and fetal outcome, short- and long-term health effects: A narrative review. Nutrients, 18(9), Article 1375. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC13165033/
  • Nava, E., Giraud, M., & Bolognini, N. (2023). The emergence of the multisensory brain: From the womb to the first steps. iScience, 27(1), Article 108758. https://doi.org/10.1016/j.isci.2023.108758
  • Piccoli, G. B., Clari, R., Vigotti, F. N., Leone, F., Attini, R., Cabiddu, G., Mauro, G., Castelluccia, N., Colombi, N., Capizzi, I., Pani, A., Todros, T., & Avagnina, P. (2016). Current concepts of maternal nutrition. Kidney International, 89(5), 992–1002. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4949006/
  • Riser, D., Spielman, R., & Biek, D. (2024). Lifespan development. OpenStax. https://openstax.org/books/lifespan-development/pages/3-3-sensory-development-in infants-and-toddlers
  • Suryana, D., & Mahyudin, N. (2019). Dasar-dasar pendidikan TK. Kencana.
  • Van den Bergh, B. R. H., van den Heuvel, M. I., Lahti, M., Braeken, M., de Weerth, C., Entringer, S., Halldorsdottir, T., & Glover, V. (2020). Prenatal psychological stress exposure and neurodevelopment and health of children. Development and Psychopathology, 32(5), https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6801715/

 

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *